Maraknya peredaran dan penjualan dalam skala besar, murah termasuk transaksi terang-terangan video, konten-konten dunia maya yang bernuansa pornografi menjadi pemicu kekerasan seksual atau pelecehan seksual terhadap anak-anak. Para pelaku beragam, mulai dari keluarga dekat sampai orang luar yang nota bene berada di sekitar korban. Demikian keprihatinan Bunga S Kobong, pembicara pada sesi seminar “Dampak Media dan Pornografi Bagi keluarga dan Perkembangan Anak” di GBI Daan Mogot, Jakarta (Selasa, 23/4).


Tayangan pornografi rata-rata dinikmati oleh anak-anak saat orang-tua bekerja, bahkan ada juga ketika orang-tua sedang beribadah di gereja, demikian hasil sebagian wawancaranya dengan para anak-anak remaja di suatu kota.
Saat ini, menurutnya generasi muda hidup dalam era generasi Y (Gen Y), suatu generasi yang hidup dan bekerja bisa dari rumah, cafe dan lain-lain. Ia mengamati ketika seseorang anak kecanduan video porno, maka ia akan mengalami kelelahan otak seperti bengong. Bisa juga, ia akan mengalami tidak bisa mengendalikan tubuhnya sehingga berperilaku seperti hewan dan ujung-ujungnya yaitu melakukan pemerkosaan terhadap anak lain.
Ia mengutip komentar Mark B Kastlemaan seorang pakar adiksi pornografi dari AS mengatakan pornografi menyebabkan kerusakan otak bagian depan. Akibatnya, menurut penelitiannya hal itu akan mengakibatkan penurunan prestasi akademik, susah membuat perencanaan, sulit mengendalikan nafsu seks dan emosi, memicu perilaku menjadi seperti seekor binatang.
Tidak hanya hal diatas saja yang negatif, dampak lainnya ialah seks bebas, kehamilan dini, HIV/AIDS, kekerasan seks, perilaku seks menyimpang (homo, lesbi, bi-seks), mis-konsepsi (seks untuk kesenangan).
Bunga mendorong agar orang-tua memiliki hubungan yang dekat dengan anak, sehingga anak secara bebas bercerita atau melaporkan hal-hal yang dialaminya di sekolah, dan lain-lain secara terbuka. Orang-tua, menurutnya harus mendengarkan curhat anaknya dengan sabar, penuh kasih dan jauh dari rasa amarah.
Selain itu, para orang-tua senantiasa memperhatikan perkembangan tubuh, jiwa anaknya. Ia memberikan contoh, jika anak yang semula periang, tiba-tiba menjadi pemurung, semula pendiam menjadi agresif, ketika buang air kecil kesakitan, hal itu merupakan tanda-tanda anak mengalami kekerasan atau pelecehan seksual. Dari hasil pengatamannya, selama ini anak takut bercerita, melaporkan apa saja yang dialaminya, termasuk mengalami pelecehan atau kekerasan seksual karena mereka diancam untuk dibunuh oleh pelaku atau takut kena marah orang-tuanya.
Dengan nada mewanti-wanti, ia mengatakan sebaiknya anak-anak yang masih kecil tidak diberikan telepon seluler oleh orang-tuanya, karena alat tersebut menjadi salah satu sarana penyebaran konten pornografi. Kesibukan orang-tua tanpa memperhatikan komunikasi dengan anak akan menghasilkan kekosongan jiwa pada anak. Peran orang tua akan diambil-alih orang lain atau media. Acara dilanjutkan dengan tanya-jawab. [pram]

Last modified on
CIMB Niaga lt. 6
Jl. Daan Mogot Raya no. 95C, Jakarta Barat
(021) 5604323/24
(021) 5604325
GBI Grogol Rayon 1B 2013.