Error
  • JUser: :_load: Unable to load user with ID: 663
Motivasi

Motivasi

Andalkan Tuhan dalam segala hal

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:5-6) Sertakanlah Tuhan di dalam segala hal khususnya di dalam usaha dan pekerjaan kita untuk meraih kesuksesan. Ada banyak hal yang tidak kita dapat di bangku sekolah, tetapi bila kita mampu mengerjakannya dengan baik, akan ada sukacita tersendiri yang memenuhi hati kita.

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Dikisahkan, suatu malam seorang pria tua dan istrinya masuk sebuah lobi hotel kecil di Philadelphia. "Semua hotel besar di kota ini sudah terisi, bisakah Anda memberi kami satu kamar saja?" kata pria tua itu.

Resepsionis menjawab, "Semua kamar telah penuh karena ada 3 even besar yang bersamaan diadakan di kota ini. Tapi, saya tidak bisa membiarkan Anda untuk berhujan-hujan di luar sana pada jam satu dini hari seperti ini. Kebetulan, saya diberikan fasilitas kamar. Tidak besar sih... Jadi saya menawarkan, bersediakah Anda berdua tidur di kamar saya?"

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Seekor semut mungkin terlihat tidak berdaya, tapi ia bisa merepotkan jika masuk ke dalam telingamu.

Sebuah duri kecil mungkin tidak berbahaya, tapi jika tertancap ke dalam daging dan tidak bisa dikeluarkan pasti akan sangat menyakitkanmu.

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Pada suatu hari ada seorang anak SD yang sedang duduk melamun seorang diri. Anak SD ini seperti biasanya steely jam istirahat/jam pulang tiba, dia langsung duduk mmbaca buku & duduk jauh dari teman2nya. Anak ini adalah anak dari kluarga Kristen. Dari semenjak kecil, anak ini sering sakit & bahkan pernah demam tinggi yang menyebabkn kelumpuhan pada kakinya, sehingga dia harus memakai kursi roda ke sekolahnya.

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Rajawali adalah burung yang terkenal dengan ketangguhannya menghadapi badai. Kekuatannya terletak pada sayapnya yang mampu terbang tinggi dan ketajaman inderanya saat mengejar mangsa.

Namun...

Kekuatan terbang burung rajawali tidak datang dengan sendirinya. Rajawali selalu membangun sarang di pohon yang tertinggi di puncak bukit yang tinggi dan terjal.

Saat anak rajawali belajar untuk terbang, dengan tanpa perasaan, induknya akan menjungkirbalikkan sarangnya.

Tidak tanggung-tanggung, rajawali kecil itu akan dibiarkan terjun bebas beribu-ribu meter menuju batu-batu tajam yang ada di bawahnya.

Dalam kepanikannya, anak rajawali itu akan berusaha mengepak-kepakk­an sayapnya. Di detik terakhir sebelum ia menghujam batu-batu tajam itu,

induk rajawali dengan sigap menyambar anaknya dan menjatuhkan anaknya kembali.

Dilakukan berulang-ulang sampai menjadi cukup kuat dan akhirnya mampu terbang sendiri. Awalnya mungkin anak rajawali itu tidak mengerti maksud dari "kekejaman" induknya. Tapi ketika induknya melakukannya berulang-ulang, ia pun mengerti dan menikmati proses belajarnya sampai akhirnya ia bertumbuh menjadi rajawali yang perkasa,

sama seperti induknya.

Segala kesulitan, tantangan, dan permasalahan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi pada diri kita, sesungguhnya adalah SARANA untuk membentuk mental dan karakter kita menjadi KUAT. Bukankah kita bertambah pintar setiap kali lulus ujian sekolah? Seperti itulah hidup. Kita semakin KUAT tatkala mampu melewati satu per satu kesulitan, tantangan, dan permasalahan hidup.

Never give up for everything !! Gbu.

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Pada 2003, tepatnya ketika saya masih kelas satu SMP, Tuhan memberikan suatu anugerah terutama kepada keluarga saya.

Saat hendak pulang dari sekolah, saya mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan retak dan patah di tulang lengan saya. Dokter menyarankan agar saya segera menjalani operasi agar tulang saya segera dapat disambung. Kendala dan cobaan mulai bermunculan. Pertama, RS di kota saya belum dapat melakukan operasi tulang dan saya harus menjalani operasi di luar kota tepatnya di Solo. Kendala kedua tentunya menyangkut soal biaya. Jika harus menjalani operasi di luar kota tentulah harus menyiapkan uang transportasi, dan tentunya biaya operasi itu sendiri yang pastinya mahal. Orangtua saya mulai bergumul menghadapi masalah ini. Satu per satu cara dilakukan untuk mendapatkan biaya, mulai dari menjual sepeda motor, meminjam kesana kemari dan lain sebagainya. Tetapi semua itu belum dapat menutupi biaya yang harus dikeluarkan, hingga Tuhan mulai membukakan jalan satu per satu. Pendeta kami yang mendengar berita bahwa saya harus menjalani operasi di Solo, segera menghubungi orangtua saya dan mengatakan bersedia mengantar hingga ke Solo karena beliau juga kebetulan ada urusan di kota yang memiliki slogan “Berseri” tersebut. Beberapa hari berselang, orangtua saya mendapatkan biaya yang dirasa dapat mencukupi biaya operasi tersebut.

Sesampainya di Solo, saya segera dimasukan ke salah satu RS disana dan kendala berikutnya sudah menanti. Biaya operasi ternyata lebih besar daripada yang diperkirakan. Kembali kami harus bergumul, kami sudah tidak mungkin mundur dan menunda operasi karena sudah sampai di Solo dan saya harus segera di operasi. Tetapi disatu sisi darimana kami bisa mendapatkan uang untuk menutupi biaya operasi ini. Pendeta kami yang juga menemani di RS mengajak kami berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus dan akhirnya dengan penuh iman kami memutuskan untuk melanjutkan operasi ini.

Setengah jam sebelum melakukan operasi, ayah saya mengatakan bahwa tidak perlu kuatir dengan biaya yang harus dibayarkan yang terpenting kamu segera di operasi dan sembuh. Disana terlihat air mata ayah saya mengalir. Selama 12 tahun saya hidup (sampai 2003), baru pertama kali saya melihat ayah saya menangis. Tepat 10 menit sebelum saya masuk ruang operasi, tiba-tiba handphone ayah saya berdering, beliau keluar dari kamar perawatan dan selang beberapa menit kemudian beliau masuk dengan wajah yang senang. “Barusan ayah menerima telepon dari teman dan mengatakan bahwa dia baru saja mengirim sejumlah uang ke rekening.” kata ayah. Uang yang dikirimkan jumlahnya tepat dengan yang kami butuhkan untuk biaya operasi, dan ayah menceritakan bahwa dia sama sekali tidak pernah menceritakan tentang operasi ini ke temannya tersebut.

Saya memasuki ruang operasi dengan wajah penuh kemenangan, kepercayaan, kekaguman, dan kesenangan dari Tuhan. Tuhan memiliki waktu-Nya sendiri untuk menolong kita. Waktu yang baik, yang tepat, dan yang sesuai menurut Tuhan. Teruslah percaya dalam iman dan pengharapan. Jika saya saja ditolong apalagi saudara semua.

For Nothing Is Impossible

By. Folmee Regina

Published in Motivasi
Written by
Read more...
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa saja yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Tahun 2001, aku baru saja lulus informatika perguruan tinggi terkenal di surabaya, dan setelah kelulusan, aku mempunyai keinginan yang sangat keras untuk pergi ke amerika untuk bekerja. Aku berusaha dengan segala cara agar keinginanku ini terwujud. Aku banyak mencari informasi dan rela bolak balik Sidoarjo-Surabaya sampai aku sudah tidak kuat lagi menaiki sepeda motor. Aku rela membayar biaya yang sangat mahal untuk agen/calo visa. Cita-citaku memang ingin mempunyai penghasilan besar di Amerika, mengingat aku tidak mempunyai usaha keluarga untuk diteruskan. Tidak seperti rata-rata teman-temanku yang hampir semua mempunyai usaha keluarga sendiri. Bila aku bekerja di perusahaan, gaji yang kuterima hanya sekitar 1 jt (th 2001), memang cukup untuk sendiri, tapi tidak untuk masa depan meskipun tiap tahun naik 10%. (saat itu aku menunggu wisuda aku sambil bekerja di bank selama 9 bln). Biaya hidup yang tinggi membuatku harus berpikir untuk mencari penghasilan yang lebih besar. Jika dibandingkan dengan luar negri, memang sangat jauh. Aku pernah berpikir seminggu waktuku kuhabiskan di Indonesia, berarti aku telah membuang 5 jt, jika bekerja di luar negri.
Dengan pikiran tiap minggu kehilangan kesempatan memperoleh 5 jt, aku berusaha keras untuk bisa bekerja di luar negri. Aku berusaha keras meminta persetujuan orang tua, dengan janji2ku. Akhirnya dengan berat hati, orang tua menyetujui. Tinggal masalah visa yang terberat. Karena aku harus interview langsung, dan untuk mendapat visa Amerika memang tidak mudah. Selain itu aku harus memalsu beberapa dokumen. Selama ini aku bertanya2 pada Tuhan, apakah yang kulakukan ini benar, apakah Dia setuju dengan rencanaku ini, apakah Dia juga ikut mendukung ? Akupun sempat berjanji2 pada Tuhan apabila aku berhasil. Selama itu aku merasa tidak mendengar jawabanNya, atau aku yang tidak bisa mendengarNya saat itu. Memang banyak kesulitan aku temui, banyak penghalang yang muncul dalam pengurusan visa, tapi aku “memaksa” Tuhan dengan berdoa “Tuhan, ijinkanlah aku berangkat !”. Aku berpatokan kalau memang visaku gagal berarti aku tidak boleh berangkat. Banyaknya penghalang dalam visa aku artikan sebagai ujian dari Tuhan untuk menguji kesungguhanku. Aku berusaha mencari solusi dalam tiap proses sampai akhirnya visaku benar2 disetujui. Alangkah gembiranya aku saat itu, usahaku selama ini tidak sia-sia, aku bisa berangkat ke Amerika dan Tuhan sudah tunjukkan ijinNya, berarti Tuhan setuju. Aku senang sekali, meskipun bayanganku nanti aku akan berhadapan dengan kerja keras dan penderitaan, tapi aku optimis aku akan sanggup menghadapinya. Akhirnya aku berangkat ke Amerika. Banyak hal kualami mulai dari keberangkatan, karena aku berangkat sendirian.
Di Amerika aku mulai hidup mandiri. Aku mulai mengalami apa itu penderitaan. Meskipun aku telah banyak mempersiapkan diri, mulai timbul banyak masalah. Aku hidup di dunia yang menyeramkan. Hari demi hari kulalui, “Aku harus sanggup bertahan!” Dengan tangis air mata, aku berpikir “Aku tau bakal seperti ini, aku harus maju terus!” Dengan tekadku aku berhasil penyesuaian bertahan dalam hal makanan dan pekerjaan fisik. Setiap hari aku makan seadaanya, sampai pernah harus disumbang sosis 2 irisan kecil. Tapi aku bisa menyesuaikan dengan makanan dalam kondisi yang memalukan. Tak masalah bagiku. Aku sudah berjuang untuk visa, tak ingin usahaku sia-sia. Begitu juga dengan kerja fisik, badanku telah pegel linu, kaki kram karena bekerja harus berdiri, sampai demam, ditambah lagi suhu musim dingin saat itu 5-10o C. Lama-lama badanku terbiasa, kakiku sudah kuat berdiri berjam-jam lamanya.

Sebagai seseorang yang mencari uang, apa yang diperlukan sudah cukup, yaitu makanan, tempat tinggal, dan pekerjaan. Sudah cukup untuk bertahan di Amerika. Tapi ternyata aku salah perhitungan. Satu hal yang membuatku sangat menderita adalah rasa “kesepian”. Hatiku benar-benar “kosong”. Aku terlalu menganggap remeh hal ini. Aku optimis bisa mengatasinya saat itu karena aku berpikir apalah artinya masalah kecil ini. Ternyata tidak berhasil. Aku mendapat beberapa teman, tapi hatiku tetap kosong. Aku menjadi gelisah, apa yang salah ? Hidupku sudah berkelanjutan dan bisa mendapat uang, tapi ada sesuatu yang mencambukku terus menerus dan aku kesakitan. Aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya dan mengisinya dengan bekerja. Aku terus menanamkan pada diriku bahwa tujuanku ke Amerika adalah mencari uang. Aku bahagia sekali setiap aku menerima gajiku. “Inilah hasil usahaku” Perjuanganku dari awal tidak sia-sia, tapi kesakitan itu terus menyerang. Tiap malam aku menderita, aku berusaha untuk tidak emosional dan terlalu memikirkan hatiku, tapi aku tidak bisa. Aku ingin lari dari kenyataan, tapi kemana aku harus berlari, aku bingung karena arah pelarianku tidak tepat, aku tau itu. Tapi aku tidak ingin kesakitan lebih lama lagi, bagaimana cara mengisi kekosongan hati ini, aku menjerit, aku menangis, aku berseru pada Tuhan setiap hari, setiap malam, sampai aku kecapekan dan akhirnya tertidur. Dalam malam2 yang sangat dingin itu aku meratap, hari demi hari, sampai akhirnya aku menyerah. Ternyata hatiku lebih unggul daripada ego dan logikaku.
Suatu minggu aku ke gereja, bagaikan disambar petir aku mendengar kata-kata kotbah “Jangan sampai dollar menjadi kutuk dalam hidupmu !” Aku tau bahwa saat itu Tuhan sedang berbicara padaku. Aku sedih, aku merasa Tuhan tidak berada di pihakku. Bukankah selama ini Tuhan tolong aku, Tuhan setujui permohonanku, visaku. Untuk apa semua perjuangan berat itu jika aku harus pulang kembali ke Indonesia. Kenapa kalau memang Tuhan melarang aku berangkat ke Amerika, kok tidak dari awal-awal saja ? visaku gagal kan beres, aku tidakjadi berangkat ?! Aku merasa Tuhan mempermainkan aku. Tapi saat itu juga aku melihat Dia berdiri begitu Agung dihadapanku, begitu Mulia, Maha kuasa. Dia memandangku dengan tersenyum dan penuh kasih. Aku tau Dialah yang berencana atas hidupku. Aku tau apa maksudNya. Dia tunjukkan kalo aku sendirilah yang memaksa untuk ke Amerika, dengan sok yakin. Tuhan telah tunjukkan kelemahanku. Ternyata aku tidak sanggup mengatasi kekosongan hatiku. Aku telah gagal. Tapi Dia tetap mengasihiku. Dia tidak membiarkanku bertambah hancur. Dia telah kabulkan permintaanku ke Amerika yang telah aku minta dengan paksa, meskipun berakhir dengan kegagalan. Mengapa ? Karena Dia begitu mengasihi anakNya. Dia tahu kalau aku tidak akan sadar kalau belum mencobanya sendiri. Aku yang keras kepala ini. Dia tahu kalau aku akan belajar sesuatu dari pengalaman ini. Dengan berat aku memutuskan pulang. Aku merasa di Indonesia buahku akan lebih manis rasanya. Pengalaman yang mahal ini membuatku belajar untuk menerima apapun keputusanNya, meskipun tidak sejalan dengan keinginanku yang bagiku rasional. Tapi ternyata Dia lebih mengerti.
Saat ini, meskipun penghasilanku di indonesia hanya cukup untuk diriku sendiri, aku tidak ingin mengkuatirkannya karena aku tau Tuhan ada di pihakku, dan Dia berencana atas hidupku, Aku yakin dia punya rencana lain untuk ku di masa depan. Dia pegang kendali, dan dalam kendaliNya kita akan tampak lebih indah.
Seperti ada tertulis :

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa saja yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” - Yeremia 29:11


-------------------------------------------
Dikirim oleh : JHWDGP - angel*****@yahoo.com

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Ketertiban/kedisiplinan meliputi hal-hal seperti bangun pagi hari dan melakukan saat teduh pribadi/bersama keluarga; datang tepat waktu ke lokasi pelayanan, pekerjaan ; mempunyai program dan jadwal kerja yang jelas; menyelesaikan tugas-tugas dengan tepat waktu dan berkualitas; memilih makanan/minuman , mana jenis yang membahayakan kesehatan dan jenis yang berguna bagi tubuh; saat di jalanan (lalu lintas); berbusana dengan pantas; rambut dengan model umum, bukan punk atau “ngerock” dan lain-lain.

Daniel memiliki kehidupan yang disiplin. Sebagai pemuda Yehuda, ia ditawan pasukan Kerajaan Babilonia (sekarang Irak) sekitar tahun 586 SM di Yerusalem, Kerajaan Yehuda (Selatan). Tiba di lokasi pembuangan di Babel, Raja Nebukadnezar akan melantik mereka menjadi pegawai istana. Daniel 1:4 “ yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim”.

Daniel dan kawan-kawannya hidup dalam kedisiplinan. Salah satu contohnya, mereka tidak mengkonsumsi makanan raja tetapi memilih jenis menu makanan sehat. Daniel 1:8 “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya”.

Pada konteks zaman itu, makanan raja sebelum dihidangkan, dipersembahkan kepada para berhala. Jenis anggur yang dikonsumsi adalah jenis anggur yang membuat orang mabuk (teler).

Daniel menolak melakukan kompromi dengan tata cara dunia yang bergelimpangan dosa. Dosa muncul perlahan dan jika seseorang hidup tidak tertib/disiplin melakukan Firman Tuhan, ia akan “terjerat” dosa secara lambat atau cepat. Nats Roma 6:23 “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.

Sehari-hari, ia melakukan ibadah dengan setia kepada Allah secara rutin. Bahkan, ia tetap melakukan hal itu, pada saat gawat, karena ada dekrit (ancaman) surat Raja Nebukadnezar. Ancaman itu berbunyi , siapa yang berdoa/menyembah selain kepada patungnya akan mengalami penghukuman.

Alkitab mencatat bagaimana ia dan kawan-kawan dijebloskan ke api yang menyala-nyala, goa singa, tetapi mereka selamat. Berkat Tuhan Allah dan kedisipliannya, ia memperoleh jabatan yang tinggi dan menjalankan roda pemerintahan di kerajaan Babel.



Seseorang bisa hidup disiplin, jika ia memiliki :
1. Komitmen. Yesus Kristus memiliki komitmen yang kuat. Ia bangun pagi-pagi dan berdoa. Hal yang sama dilakukan-Nya pada malam hari sebelum beristirahat. Markus 1:35 “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana”.
2. Kesadaran. Tanpa hal ini, tertib/disiplin akan menjadi slogan belaka. Artinya, tanpa unsur paksaan, seseorang melakukan sesuatu dengan suka rela. Filipi 2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan”.
3. Kecepatan dan ketepatan waktu. Peribahasa mengatakan, waktu adalah uang. Semakin seseorang berlambat-lambat saat melakukan sesuatu, ia sedang kehilangan kesempatan yang berharga. Efesus 5:16 “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat”.
4. Hidup dipimpin Roh Kudus. Keinginan daging harus dikalahkan oleh Roh Kudus. Bangun pagi untuk saat teduh merupakan “pertempuran berat” bagi setiap orang karena dibalut rasa kantuk. Seorang percaya yag hidup benar, sesuai dengan Firman Tuhan, mungkin dikatakan kuno, ketinggalan zaman oleh dunia. Galatia 5:16 “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging”.
5. Penundukan diri. Seseorang harus tunduk kepada aturan, atasan dan institusi/lembaga, tempat ia melayani atau bekerja. Tanpa hal ini, seseorang akan berjalan menurut kehendaknya sendiri. Yesus tunduk kepada Bapa di surga, bahkan Ia taat sampai mati. Filipi 2:8 “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.

Indahnya hidup disiplin. Mulailah sekarang. [pram]

Published in Motivasi
Written by
Read more...

Pada zaman pelayanan Yosua, ia memimpin bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan untuk masuk ke Kanaan, usai kematian Musa. Yosua menaklukkan bangsa-bangsa Kanaan. Ia membagi lokasi tinggal 12 suku Israel.

Ia sukses dan berhasil, sebab Tuhan Allah menyertainya. Kunci keberhasilannya sederhana saja yakni ia loyal kepada atasannya (Musa) dan kepada ketetapan-ketetapan hukum Tuhan (Taurat).

Kelebihan Yosua yakni pengabdiannya dan kasihnya kepada Allah yang tulus. Nats Keluaran 33:11 “Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu”.

Selain itu, ia belajar banyak dari Musa tentang banyak hal. Iman Yosua tidak diragukan lagi, ketika ia dan Kaleb menyusup ke Kanaan (12 pengintai). Laporannya kepada Musa optimis, bukan pesimis yaitu ia yakin penyertaan Tuhan kepada bangsa Israel saat menduduki Kanaan.

Loyalitas (kepatuhan, kesetiaan) kepada atasan, institusi sekuler atau lembaga pelayanan , mutlak dimiliki oleh setiap orang percaya, di dunia kerja atau pelayanan.
Beberapa alasan mengapa seorang percaya harus memiliki loyalitas yaitu :
1. Sesuai dengan perintah Tuhan. Seorang bawahan harus tunduk (taat) kepada atasan. Kondisi ini bisa memperlancar pelaksanaan kerja/pelayanan, mengingat antara kedua komponen tersebut terikat menjadi satu kesatuan tim kerja. Nats. Kolose 3:22 “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan”.
2. Sikap loyal mencerminkan ketaatan. Sikap sebaliknya berarti pemberontakan/perlawanan. Hal ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Tuhan Allah. Malaikat Tuhan berubah profesi layanan menjadi iblis saat mereka menanggalkan loyalitas kepada Tuhan Allah. Nats. Yesaya 14:12-14 "Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!. Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!”.
3. Mendatangkan berkat. Dalam kondisi pelayanan/kerja yang kondusif dan ditopang oleh loyalitas, Tuhan Allah tidak segan-segan mengirimkan berkat-Nya. Nats. Mazmur 133:1-3 “ Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya”.

Sungguh luar biasa, dampak loyalitas terhadap diri sendiri maupun orang lain, jika seseorang percaya mempunyainya. [pram].

Published in Motivasi
Written by
Read more...
CIMB Niaga lt. 6
Jl. Daan Mogot Raya no. 95C, Jakarta Barat
(021) 5604323/24
(021) 5604325
GBI Grogol Rayon 1B 2013.